Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryFeb 24, '12 4:52 AM
for everyone

Bukan bermaksud sok tua atau sok tau, hanya ingin sekedar sharing dengan semuanya.

Setiap hari, kita selalu terlibat dalam percakapan. Tidak hanya dengan yang seusia, tetapi juga antar usia. Dari yang lebih muda (anak-anak) sampai dengan yang lebih tua (para sesepuh) yang hanya sekedar bisik-bisik, gossip, curhatan juga diskusi. Dalam setiap percakapan itu, lebih baik kita menjaga ucapan kita. Tidak asal ngucap/ nyeplos tanpa mikir terlebih dahulu… Ini semua dikarenakan, ucapan kita itu bisa menjadi tauladan mereka yang mendengarnya. Semisal ada adik kita curhat…

Adik(L)  : “Kang…istrinya temanku kalau diberi saran ngenyelan, malah nuntut2 segala”

Kakak    : “Wong wedok kalau diatur susah, tinggal saja…cari lagi yang lain”

Menjawab curhatan atau cerita seseorang baiknya tidak asal bunyi seperti di atas, ada banyak hal yang harus dipertimbangkan. Apalagi, bila diri kita lebih tua daripada yang lain…pikir dulu baik-baik, diskusikan solusi apa yang memungkinkan untuk diambil. Dilihat juga bagaimana situasi saat terjadi percakapan itu, apakah dalam rumah yang sepi, atau ada orang/ family yang mendengarkan perkataan tsb. Apabila, ucapan tsb didengar orang lain yang lebih muda, bagaimana kira-kira bila mereka langsung mengikuti jejak kita yang lebih tua? Berarti ada banyak hal yang dipertaruhkan… ada istri/ suami mereka, ada anak-anak mereka juga yang lain. Bila perkataan kita tsb diaplikasikan oleh pendengar kita, apa beban yang ditanggung anak-anaknya… Iya kalau anaknya sudah bisa mandiri… kalau anaknya masih kecil-kecil?

Anak-anak pun bisa menelusuri jejak percakapan tsb, merunut bagaimana kejadian yang menimpa keluarganya berasal…dan itu sungguh menyakitkan. Apalagi bila sumber nasihat itu dari orang-orang terdekat keluarga,mungkin berujung dendam.

Jangan remehkan ucapan kita yang asal bunyi itu, di acara yang sesantai apa pun… kata-kata kita dikonsumsi orang banyak. Dari satu orang pendengar akan sambung-menyambung menjadi 1000 penggosip. Yang kemudian mungkin dilakukan oleh mereka dengan pemikiran  “ahh…si itu aja bilang begini kenapa aku tidak bisa”...

Ketika yang mendengar perkataan kita ipar atau menantu, dampaknya mungkin...saudara perempuan atau anak perempuan kita yang menjadi korban. Dianggap kita tidak peduli, dan memberikan arahan yang 'pas' bagi orang yang tidak bertanggung jawab.

Tidak perlu lah 'mblusukke' kerabat kita yang lebih muda atau pun yang lebih tua. Hal-hal seperti ini bisa menjadi siklus yang kemudian jatuhnya ke kita juga.

Misal saja, percakapan tadi di atas didengar oleh teman kerja... Kesimpulan yang didapat bermacam-macam kan... bisa diartikan

1.si pemberi saran otaknya nylewah/ nggak bener,

2.si pemberi saran provokator,

3.si pemberi saran tidak loyal

Bisa berujung juga pada kepercayaan pendengar ke kita yang asal ucap.

Dari asal bunyi menjadi masalah yang sangat serius.


12 CommentsChronological   Reverse   Threaded
mahasiswidudul wrote on Feb 24
Kadang apa yg kita ucapkan itu juga doa buat kita :)
hanifahnunk wrote on Feb 24
Kadang apa yg kita ucapkan itu juga doa buat kita :)
iya nin, yukk...hati2 bertutur kata :)
srisariningdiyah wrote on Feb 24
mulutmu harimaumu...
hanifahnunk wrote on Feb 24
mulutmu harimaumu...
aumannya membawa petaka
*umpetan*
irvanairlangga wrote on Feb 26
Kesimpulan yang didapat bermacam-macam
"tuntutan dunia".
mustahil dihindari
:)


jika ingin (selalu) komen 'bener' maka harus tau (super) detail topik yg dibahas.
nah, sayang nya mnrt perkiraan ogut sih setiap kita berkomunikasi ud ga dpt info lengkap dan kemampuan mikir yg tak stabil.

"asal ceplos" didasari 2 hal itu
(ini pendapat aye)

individu pny masalah masing-masing.
lg ruwet ama akuntasi kantor , rekan kerja malah ngegosip istri.
tanggepan = males mikir.

tp ada juga "solusi" diam adalah Emas.

tp ttp terbantahlan,,klo diem mulu.
dianggap ga empati
ato bisu
minimal.... Bodoh

:))
hanifahnunk wrote on Feb 26
"tuntutan dunia".
mustahil dihindari
:)


jika ingin (selalu) komen 'bener' maka harus tau (super) detail topik yg dibahas.
nah, sayang nya mnrt perkiraan ogut sih setiap kita berkomunikasi ud ga dpt info lengkap dan kemampuan mikir yg tak stabil.

"asal ceplos" didasari 2 hal itu
(ini pendapat aye)

individu pny masalah masing-masing.
lg ruwet ama akuntasi kantor , rekan kerja malah ngegosip istri.
tanggepan = males mikir.

tp ada juga "solusi" diam adalah Emas.

tp ttp terbantahlan,,klo diem mulu.
dianggap ga empati
ato bisu
minimal.... Bodoh

:))
=))

paling pas kalau lagi mumet ada yg curhat langsung stop "ntar dlu ya, q lagi gak konsen"

daripada asal komen doank kan...hahahag
kebetulan yg kemarin ketemu kemampuan berpikirnya bagus,
sayangnya kesan yg tertangkap dia cenderung selalu 'menjerumuskan' dan dengan kalimat2 yang halus, shg orang ga nangkep arahnya dia yg sengaja njerumusin itu.

ktemu orang bermacam2, sifat juga latar belakangnya...
jadi memang paling aman tadi itu 'diam itu emas'

aman karena tidak ada resiko gosip berlanjut dg nama kita tercatut di dalamnya, atau jadi pihak yg nanti bisa disalahkan...
:D dianggep bisu atau bodoh kan lebih aman :))
irvanairlangga wrote on Feb 26
yupz
lebik baik Diam dan gak nimbrung bin tanpa komen.

:)

jika 'mayoritas' berbuat demikian maka menjadi masyarakat yg "individualisme nan egois"
:)
masalah mu untuk mu
masalah ku urusan ku

ga perlu cerita
pikirkan sendiri
pertimbangkan mandiri
cari referensi manual

selesaikan tanpa melibatkan orang lain

;p
hanifahnunk wrote on Feb 27, edited on Feb 27
jika 'mayoritas' berbuat demikian maka menjadi masyarakat yg "individualisme nan egois"
:)
masalah mu untuk mu
masalah ku urusan ku

ga perlu cerita
pikirkan sendiri
pertimbangkan mandiri
cari referensi manual

selesaikan tanpa melibatkan orang lain

;p
kebetulan mayoritas orang sini tidak bisa hanya diam..
yg punya masalah cerita, yang denger saling nyaut.

balik ke diri masing2 juga, memang lebih milih 'aman' atau cerita untuk dapat bantuan masukan.
tergantung orangnya, situasi dan kondisinya juga latar belakang lingkungannya van

komen yg di dapet pun tergantung dr 'pendengar', dari sikon dllnya

:D
irvanairlangga wrote on Feb 27
komen yg di dapet pun tergantung dr 'pendengar'
nah, maka sebetuLnya ud "jelas".

pemilik 'masalah' adalah penyelidk, sekaligus hakim dan eksekutor.

dia bebas memilih siappun 'korban' yg akan disibukkan dgn ocehan nya.
nah,
ketika mendapat Reaksi....
Dia juga yang kudu mikir uLang.
tanggapan 'korban' itu bener or not.
dan akhirnya,,,
Dia juga yg akan berBuat.
apakah mengikuti saran orang atau pendapat pribadi.


maka,
"ga masalah" orang laen mo komen apapun.
misal.

------------ bunuh aje istri anda-------------

toh dia bisa mikir,
jawaban tadi cuman BECANDA.


atau sebaliknya,
orang laen berkata...

---------- tegur tetangga mu dgn Tegas ------------


dia malah bakar rumah sebelah yg sering nyetel dangdutan tengah malem



;)
hanifahnunk wrote on Feb 28
pemilik 'masalah' adalah penyelidk, sekaligus hakim dan eksekutor.
sayangnya banyak yg salah eksekusi :D

hmm..noted mas irvan,
gini enaknya di mp...banyak komen yg membawa penerangan
irvanairlangga wrote on Feb 28
MP makin sepi qo.
hahaha

;p
irvanairlangga wrote on Feb 28
salah eksekusi
MUNGKiN efek men"DEWA"kan sang komentator
:)


banyak terjadi klo kasus organisasi dan keagamaan.

sang 'pemimpin atau senior' diangga sakraL.
maka tiap ocehan = benar

padahal bisa aje ocehan tersebut hasil 'saklar korsLet'.
hihihi

;p
Add a Comment