Bukan bermaksud sok tua atau sok tau, hanya ingin sekedar sharing dengan semuanya.
Setiap hari, kita selalu terlibat dalam percakapan. Tidak hanya dengan yang seusia, tetapi juga antar usia. Dari yang lebih muda (anak-anak) sampai dengan yang lebih tua (para sesepuh) yang hanya sekedar bisik-bisik, gossip, curhatan juga diskusi. Dalam setiap percakapan itu, lebih baik kita menjaga ucapan kita. Tidak asal ngucap/ nyeplos tanpa mikir terlebih dahulu… Ini semua dikarenakan, ucapan kita itu bisa menjadi tauladan mereka yang mendengarnya. Semisal ada adik kita curhat…
Adik(L) : “Kang…istrinya temanku kalau diberi saran ngenyelan, malah nuntut2 segala”
Kakak : “Wong wedok kalau diatur susah, tinggal saja…cari lagi yang lain”
Menjawab curhatan atau cerita seseorang baiknya tidak asal bunyi seperti di atas, ada banyak hal yang harus dipertimbangkan. Apalagi, bila diri kita lebih tua daripada yang lain…pikir dulu baik-baik, diskusikan solusi apa yang memungkinkan untuk diambil. Dilihat juga bagaimana situasi saat terjadi percakapan itu, apakah dalam rumah yang sepi, atau ada orang/ family yang mendengarkan perkataan tsb. Apabila, ucapan tsb didengar orang lain yang lebih muda, bagaimana kira-kira bila mereka langsung mengikuti jejak kita yang lebih tua? Berarti ada banyak hal yang dipertaruhkan… ada istri/ suami mereka, ada anak-anak mereka juga yang lain. Bila perkataan kita tsb diaplikasikan oleh pendengar kita, apa beban yang ditanggung anak-anaknya… Iya kalau anaknya sudah bisa mandiri… kalau anaknya masih kecil-kecil?
Anak-anak pun bisa menelusuri jejak percakapan tsb, merunut bagaimana kejadian yang menimpa keluarganya berasal…dan itu sungguh menyakitkan. Apalagi bila sumber nasihat itu dari orang-orang terdekat keluarga,mungkin berujung dendam.
Jangan remehkan ucapan kita yang asal bunyi itu, di acara yang sesantai apa pun… kata-kata kita dikonsumsi orang banyak. Dari satu orang pendengar akan sambung-menyambung menjadi 1000 penggosip. Yang kemudian mungkin dilakukan oleh mereka dengan pemikiran “ahh…si itu aja bilang begini kenapa aku tidak bisa”...
Ketika yang mendengar perkataan kita ipar atau menantu, dampaknya mungkin...saudara perempuan atau anak perempuan kita yang menjadi korban. Dianggap kita tidak peduli, dan memberikan arahan yang 'pas' bagi orang yang tidak bertanggung jawab.
Tidak perlu lah 'mblusukke' kerabat kita yang lebih muda atau pun yang lebih tua. Hal-hal seperti ini bisa menjadi siklus yang kemudian jatuhnya ke kita juga.
Misal saja, percakapan tadi di atas didengar oleh teman kerja... Kesimpulan yang didapat bermacam-macam kan... bisa diartikan
1.si pemberi saran otaknya nylewah/ nggak bener,
2.si pemberi saran provokator,
3.si pemberi saran tidak loyal
Bisa berujung juga pada kepercayaan pendengar ke kita yang asal ucap.
Dari asal bunyi menjadi masalah yang sangat serius.